"SELAMAT DATANG DI WEBSITE BADAN KESATUAN BANGSA DAN POLITIK - BIDANG IDEOLOGI DAN WAWASAN KEBANGSAAN PROVINSI DKI JAKARTA"

GELOMBANG KORBAN PHK AKIBAT COVID-19

GELOMBANG KORBAN PHK AKIBAT COVID-19
Asep Kusnadi
Email: asep.mizanilmu@gmail.com

Beberapa hari yang lalu dalam berita liputan-6.com, Jakarta, sebuah video viral di jagat maya, memperlihatkan puluhan karyawan departemen store Ramayana di Depok, Jawa Barat menangis. Dengan air mata bercucuran, mereka berpelukan satu sama lain, saling menguatkan di tengah kondisi yang tak terduga. Hal ini pihak manajemen Ramayana mengumumkan langkah pemutusan hubungan kerja (PHK)kepada karyawannya. Gerai yang berlokasi di City Plaza Depok, tidak lagi beroperasi sejak 6 April 2020. 

Penyebabnya adalah wabah COVID-19 yang dipicu virus corona menjadi alasan pihak manajemen, omzet penjualan menurun hingga 80 persen. Akibatnya, perusahaan tak mampu lagi menanggung semua biaya operasional gerai. "Bukan hanya masalah penggajian karyawan, tapi semuanya," ujar Store Manager City Plaza Depok, M Nukmal Amdar. Namun para pekerja tetap akan  menerima pesangon sesuai dengan haknya masing-masing.

Ancaman Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) tak hanya membayangi para pekerja di Indonesia. Sejatinya, kondisi serupa terjadi juga di beberapa negara lain, hal ini sama, sebabnya dipicu melesunya kegiatan ekonomi akibat pandemi Virus Corona (Covid-19) yang terjadi sejak awal 2020.

Badai resesi terbayang di depan mata, meski pandemi COVID-19 tak diketahui kapan akan berlalu. Menurut data Organisasi Buruh Internasional (ILO) melaporkan, 81 persen dari tenaga kerja global yang berjumlah 3,3 miliar, atau 2,67 miliar saat ini terkena dampak penutupan tempat kerja. Menurut Direktur Jenderal ILO, Guy Ryder "Para pekerja dan dunia usaha sedang menghadapi bencana, baik di perekonomian maju dan berkembang,"Masih menurut Ryder, berdasarkan analisa laporan dari Organisasi Buruh Internasional (ILO), memperkirakan krisis virus corona pada kuartal II 2020 dapat mengurangi 6,7 persen jam kerja di tingkat global, atau setara dengan 195 juta pekerja penuh waktu. Bahkan menurut ILO, wabah virus corona merupakan krisis global terburuk sejak Perang Dunia II. "Ini merupakan ujian terbesar dalam kerja sama internasional selama lebih dari 75 tahun,". Berdasarkan studi terbaru ILO, sebanyak 1,25 miliar pekerja yang berada di sektor paling terdampak tersebut berisiko terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) dan pengurangan upah serta jam kerja. "Banyak dari mereka berada dalam pekerjaan yang berupah rendah dan berketerampilan rendah, sehingga hilangnya pendapatan secara mendadak menghancurkan kehidupan mereka," 

Pelan tapi pasti, sejumlah daerah mengumumkan jumlah pekerja yang terkena PHK.Di Jakarta misalnya, melalui akun resmi Instagram @disnakertrans_dki_jakarta, Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi, dan Energi DKI Jakarta melaporkan 162.416 pekerja dirumahkan dan kena PHK.Pekerja tersebut berasal dari 18.045 perusahaan. Rinciannya, 30.137 dari 3.348 perusahaan terkena PHK dan 132.279 dari 14.697 perusahaan terpaksa dirumahkan untuk sementara waktu. Selanjutnya di Kabupaten Bogor mencatat ada 82 karyawan di PHK. Selain itu, 1.467 pekerja dirumahkan tanpa dapat gaji.

Menurut Kepala Bidang Hubungan Industrial dan Syarat Kerja Disnakertrans Kabupaten Bogor, Budi Mulyawan menyatakan, ada 70 perusahaan di Kabupaten Bogor yang merumahkan dan melakukan PHK. Maka bisa diduga, PHK dan merumahkan karyawan sementara imbas lesunya dunia industri yang menyebabkan perusahaan melakukan efisiensi. Jumlah ini masih bisa bertambah karena pelaporan masih dibuka hingga waktu yang belum ditentukan.

Disnakertrans Jawa Barat, juga mendata 1.476 perusahaan yang terdampak pandemi Corona. Dari jumlah itu, ada sekira 53.465 pekerja yang dirumahkan hingga kena PHK. Menurut laporan Kepala Disnakertrans Provinsi Jabar, Ade Afriandi, menjelaskan 53.465 pekerja yang terdampak tersebut memiliki nasib yang berbeda-beda. Sebanyak 34.365 orang di antaranya diliburkan, 14.053 pekerja dirumahkan, dan 5.047 pekerja kena PHK."(Data) ini masih bersifat sementara, karena masih banyak berlangsung perundingan antara pihak perusahaan dan pekerja," 

Dari Sumatera, data Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kota Palembang, menemukan terhitung sejak 5 April 2020, jumlah pekerja yang dirumahkan atau kena PHK mencapai ribuan orang.“Sebanyak 1.262 pekerja di Palembang yang di-PHK maupun dirumahkan, akibat dampak dari terbatasnya aktivitas perekonomian sejak merebaknya kasus COVID-19,” ujar Kepala Disnaker Kota Palembang, Yanuarpan Yanny melalui Kabid Hubungan Industrial Fahmi Atta.Ribuan pekerja yang diputuskan kontrak kerja ini, bekerja di lebih dari 400 perusahaan yang berdomisili di Kota Palembang.

Perusahaan yang paling banyak menyumbang angka PHK, yaitu sektor perdagangan besar hingga mikro. Seperti rumah makan, tempat hiburan, mal dan perhotelan. Untuk sektor jasa juga berdampak besar, seperti ojek dan buruh harian."Alasan perusahaan merumahkan para pekerjanya, karena kemampuan perusahaan yang terbatas. Sehingga tidak mampu menutupi biaya operasional," katanya.

Ilustrasi PHK Karyawan. (Sumber: IEEE Spectrum)

Pandemi corona menjadi pukulan berat bagi pengusaha. Lesunya kegiatan ekonomi membuat, pengusaha harus mengambil langkah strategis demi menyelamatkan bisnisnya.

Pandemic covod-19 ini hemat penulis, tidak saja berdampak pada PHK sector industry, perdagangan, namun juga berdampak besar pada sector Pendidikan, khususnya sekolah-sekolah swasta yang masih mengandalkan dari iuran para siswanya, dan hal ini juga berdampak besar secara pendapatan ekonomi kepada para guru, baik gurur tetap apalagi honorer. Demikian pula berdampak pada sector jasa lainnya diluar industry, sekolah, jasa angkutan tranportasi, jasa ojek online, dan lain-lain.

Di sektor perhotelan misalnya. Hingga 1 April 2020, tercatat hampir 1.200 hotel di seluruh Indonesia tutup, melaksanakan cuti dibayar dan tidak dibayar hingga PHK.Wakil Ketua Umum Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Maulana Yusran mengatakan, angka ini tentu akan bertambah, selama pandemi Corona belum enyah. Biaya operasional hotel dengan pendapatan sudah tidak seimbang menjadi pemicu."Memang semua sektor kena saat darurat seperti ini, tapi sektor pariwisata itu yang kena duluan. Awalnya ada pengurangan jam kerja, kemudian tidak ada pendapatan akhirnya dirumahkan (karyawan)," imbuhnya.

Ketua Umum Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI) Provinsi DKI Jakarta, Sarman Simanjorang mengaku, perusahaan terpaksa melakukan PHK, untuk mengurangi beban operasional. Stimulus pemerintah hanya mengurangi beban dari sisi pajak dan cicilan pinjaman. Sementara cashflow perusahaan tetap anjok."Sampai saat ini, di Jakarta jumlah PHK sudah mencapai 30 ribu orang, dan se-Indonesia sudah mencapai 1,2 juta orang. Bagi sektor-sektor usaha tertentu seperti hotel, restoran, cafe, travel, pusat hiburan, ritel, dan lain-lain, PHK merupakan sesuatu yang tidak terelakkan untuk mengurangi beban operasional perusahaan.

Menurut Sarman, kemungkinan terburuk, PHK akan berlanjut jika durasi keberlangsungan COVID-19 belum pasti. Bukan tidak mungkin, pengusaha akan menutup sementara usahanya sampai pandemi usai."Tidak tertutup kemungkinan, sektor-sektor usaha tertentu seperti hotel, restoran, cafe, pusat hiburan, transportasi akan menutup sementara usahanya sambil menunggu COVID-19 ini dinyatakan berakhir sehingga iklim usaha kita bisa normal kembali.

Sebagai penutup dalam tulisan ini yang merupakan beberapa hasil analisis para pakar, penulis hanya ingin menyampaikan bahwa krisis yang berulangkali menimpa Indonesia, yang sempat terhuyung-huyung, sehingga negeri ini kembali tegak ke jalur pemulihan. Namun  situasi yang dihadapi Indonesia kala menghadapi pandemi Covid-19 saat ini lebih kompleks. Juga lebih rumit apabila dibandingkan dengan saat krisis ekonomi 2008 atau 1997-1998.

Pada 2008, problem bersumber dari sektor keuangan. Sedangkan krisis 1997-1998 bermula dari sektor perbankan yang kemudian menjalar menjadi krisis multidimensi. Sekarang, tatkala berperang melawan Covid-19, Indonesia dihadapkan pada masalah ekonomi, sosial, dan kesehatan secara bersamaan.

Pasca terjadinya gelombang PHK ini maka bukan hanya pertumbuhan ekonomi yang terancam, pengangguran dan kemiskinan juga bisa membengkak. Dalam skenario terburuk, pukulan pandemi Covid-19 terhadap kondisi ekonomi bisa menambah jumlah orang miskin baru sebanyak 8,5 juta jiwa. Jumlah ini setara seperempat lebih penduduk Malaysia.Perkiraan itu terekam dalam riset terbaru SMERU Research Institute yang dipaparkan secara daring, Selasa (21/4) kemarin. Ada tiga skenario yang dibuat. Riset SMERU memprediksi pasca lonjakan PHK ini bahwa  angkakemiskinanberdasarkan skenario pertumbuhan ekonomi: ringan, moderat, dan berat.

Dalam skenario paling ringan, yakni pertumbuhan ekonomi 4,2%, angka kemiskinan diperkirakan naik menjadi 9,7% atau bertambah 1,3 juta orang. Pada skenario moderat, jika perekonomian tumbuh 2,1%, jumlah orang miskin bertambah 3,9 juta orang. Adapun dalam skenario terburuk, yakni pertumbuhan ekonomi hanya 1%, penduduk miskin bertambah 12,4% atau setara 8,45 juta orang.
“Pandemi Covid-19 akan menghapus kemajuan dalam mengurangi kemiskinan dalam satu dekade,” kata peneliti SMERU Research Institute Asep Suryahadi dalam diskusi daring, Selasa (21/4) kemarin.

Berdasarkan data Angka Kemiskinan Badan Pusat Statistik (BPS) yang sudah dikalkulasi silang dengan data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) BPS, jumlah orang miskin di Indonesia per September 2019 sebanyak 24,79 juta jiwa atau 9,22%. Prestasi angka kemiskinan di bawah satu digit ini dicapai sejak 2018.Angka kemiskinan bakal meningkat juga diyakini oleh pemerintah. Ini terjadi seiring laju perekonomian yang diramalkan bakal sulit pada tahun ini akibat Covid-19. “Angka kemiskinan kita mungkin akan meningkat,” kata Menteri Keuangan Sri Mulyani dalam telekonferensi, Selasa (14/4).Sri Mulyani menyebut, sebanyak 1,1 juta orang berpotensi menjadi miskin. Bahkan, angka itu bisa naik lebih banyak lagi jika kondisi kian memburuk. “Dalam skenario berat, (angka kemiskinan) bisa naik 1,1 juta orang atau dalam skenario lebih berat kita akan 3,78 juta orang,” 

Terakhir sebagai penutup yang ingin penulis sampaikan adalah, mari kita semua lakukan muhasabah dengan pendekatan spiritual untuk selalu berdoa dan dekat dengan Maha Pencipta Alam ini, Tuhan Yang Maha Esa, untuk selalu memperkuat Iman dan Taqwa kepada-Nya. Kita juga untuk senantiasa bersyukur, tidak kufur apalagi menjadi kafir. Semakin kita dekat dengan Allah SWT., insyaallah rezeki dari Nya akan selalu ada dan sudah ada dalam setiap diri manusia. Wallahu’alam bi showab.
Jakarta, 13 Mei 2020,