"SELAMAT DATANG DI WEBSITE BADAN KESATUAN BANGSA DAN POLITIK - BIDANG IDEOLOGI DAN WAWASAN KEBANGSAAN PROVINSI DKI JAKARTA"

Dampak Corona Terhadap Ideologi dan Kehidupan Sosial-Keagamaan di DKI Jakarta

Dampak Corona Terhadap Ideologi
dan Kehidupan Sosial-Keagamaan di DKI Jakarta


Dr. Robi Nurhadi
Anggota PPWK DKI Jakarta
/Ketua MUI DKI Jakarta
/Kepala Pusat Penelitian Pascasarjana UNAS

A. Corona in Brief
  • Corona atau COVID-19 telah menjadi pandemi global.
  • Korban Corona sangat besar dengan tingkat penyebaran masif ke lebih dari 100 negara.
  • Corona telah memproduksi Kecemasan, Kepanikan dan Ketakutan Sosial atau 3KS.
  • 3KS cenderung mempengaruhi perubahan dua hal: cara pandang masyarakat; dan kehidupan sosial-keagamaan.
B. Dampak Terhadap Ideologi
  • Corona tidak mengganti ideologi masyarakat tetapi cenderung mempengaruhi implementasi ideologi secara insidental dan reaktif.
  • Corona telah menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi cara pandang sebagian masyarakat terdampak, dalam berpikir dan bertindak terhadap berbagai aspek sosial, budaya, ekonomi dan yang lainnya.
C. Dampak Terhadap Sosial-Keagamaan
  • Corona telah merubah sebagian masyarakat terdampak, dalam melakukan interaksi sosial, seperti bersalaman (jadi salam corona), onsite menjadi online, komunal menjadi personal, dll.
  • Corona telah merubah sebagian masyarakat terdampak dalam pelaksanaan ibadah (aspek non tauhid dan fiqih) seperti anjuran berjamaah di rumah, membawa sajadah sendiri, dll. Dalam konteks tsb, Corona telah membuat sepi tempat-tempat ibadah, kajian keagamaan, tabligh, pengajaran formal keagamaan, dll. Kehidupan keagamaan mengalami dampak sebagaimana dampaknya terhadap kehidupan sosial.
D. Analisa

D.1. Bidang Ideologi

Intensitas isu Corona di berbagai saluran media konvensional maupun sosmed yang mempengaruhi ruang pikiran dan kejiwaan masyarakat, dalam waktu tertentu, dapat menggoyahkan keteguhan ideologi masyarakat yang pada akhirnya mempengaruhi cara pandang masyarakat dalam mengambil keputusannya, contohnya: Corona telah mendorong pelanggaran sila ke-2 Pancasila saat bbrpa kalangan mulai dari mahasiswa, pasutri, hingga pengusaha yg memanipulasi masker atau menjualnya dlm harga tdk wajar.

Corona juga telah mendorong tindakan yang mengabaikan rasa kemanusiaan pada sebagian kalangan pengusaha yang melarikan investasinya ke luar negeri yg membuat IHSG anjlok. Juga munculnya aksi beli US Dollar hingga tembus ke angka psikologis Rp 17 ribu.

D2. Bidang Sosial-Keagamaan
  • Corona telah mempengaruhi praktek bersosial masyarakat dari tadinya kohesif menjadi harus adhesif dengan mekanisme yang disebut dengan social distancing (jaga jarak). Meski maksudnya baik untuk memutus mata rantai virus, dalam jangka panjang dapat memunculkan sikap individualisme dan kecurigaan yang berkepanjangan. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa Corona bisa merubah pola interaksi sosial yang lebih adhesif.
  • Corona telah memunculkan "fiqih baru" pada hampir semua ritual keagamaan, seperti misa jarak jauh atau online; jum'atan di rumah diganti dengan solat Zuhur, ditiadakannya Ogoh-ogoh dalam perayaan Nyepi, dll.
Pada saat yang sama, Corona telah menghentikan aktivitas keagamaan yang berbasis pengumpulan jamaah.

Saat analisa ini dilakukan, pengaruh Corona terhadap praktek keagamaan masih berlangsung dan menghentikan kegiatan banyak kegiatan keagamaan. Karena belum adanya kepastian kapan terhentinya wabah Corona tsb, dan berhadapan dengan pelaksanaan rutinitas ibadah tahunan seperti puasa Ramadhan, Idul Fitri dengan mudiknya, maka akan cenderung terjadinya social disobidience (pembangkangan) dan polarisasi fiqih keagamaan. Pada akhirnya, kita akan dihadapkan pada socio-religous disorder.

E. Kesimpulan & Rekomendasi
  • Kesimpulannya adalah Corona telah mempengaruhi aspek ideologi dan kehidupan sosial-keagamaan masyarakat Jakarta dan masyarakat Indonesia pada umumnya. Juga tentu aspek lainnya.
  • Rekomendasinya adalah pemerintah dan satuan masyarakat yang melihat pentingnya persoalan ini ditangani agar tidak menimbulkan efek yang buruk pada implementasi ideologi dan kehidupan sosial keagamaan, maka perlu dibuat satuan tugas untuk melakukan kampanye penyeimbangan atau penguatan kembali ideologi dan kehidupan sosial keagamaan di tengah pengaruh Corona yang begitu kuat mempengaruhi rasa takut akan mati karenanya.
Wallahu 'alam.