"SELAMAT DATANG DI WEBSITE BADAN KESATUAN BANGSA DAN POLITIK - BIDANG IDEOLOGI DAN WAWASAN KEBANGSAAN PROVINSI DKI JAKARTA"

Kerjakan Hari Ini Jangan Ditunda

Oleh : Abdul Rasyid

Mulai hari ini  Senin (25/6) insya Allah sebagian besar  karyawan (PNS dan swasta) sudah masuk kantor setelah libur panjang Idul Fitri 1439 H.  Setelah libur biasanya banyak pekerjaan yang menumpuk yang harus diselesaikan. Akan bertambah parah bila pekerjaan yang banyak tersebut terus ditunda- tunda.

Banyak karyawan sering diomelin atasannya karena sering menunda pekerjaan. Tugas yang diberikan oleh atasan tidak dikerjakan segera karena hobinya menunda. Sesuatu yang harusnya bisa diselesaikan malah ditunda.  Akibatnya, menjelang deadline, ia begitu panik dan mengerjakan tugasnya dengan terburu-buru. Bisa ditebak, pekerjaan terburu-buru akan menghasilkan kualitas yang buruk. Banyak yang harus direvisi.
Hari ini ia ditegur dan dinasehati. Sebaiknya jangan pernah melihat ke belakang atau melihat ke depan. Cukup Fokuskan pada hari ini. Anggaplah  hari ini sebagai hari terakhir. Yesterday is history and tomorrow is mystery. Bekerjalah untuk hari ini karena  kita tak akan pernah tahu bahwa beberapa hari ke depan, beberapa jam ke depan, atau bahkan  beberapa detik ke depan, kehidupan kita akan terputus.  Jurang pemisah antara hari kemarin dan hari esok adalah kematin. Ya, lagi-lagi masalah kematian.

Hari ini adalah hari Anda. Anda harus menjadikan hari ini sebagai hari terbaik. Ciptakan hari ni dengan perkataan terbaik.  Ciptakan hari ini dengan pekerjaan terbaik.  Ciptakan bahwa ada saat kematian menjemput, kita sedang berada dalam kondisi terbaik. Kondisi yang membuat kita dikenang sebagai manusia terbaik. Ya, hari  ini adalah hari terbaik kita semua. 

Hiduplah pada hari ini. Oleh karena itu,  berusahalah semaksimal mungkin pada hari ini. Hari kemarin adalah masa lalu  dan kita tak pernah bisa kembali ke sana. Lupakan bahwa kemarin kita pernah jatuh dan sakit. Begitu pula  dengan hari esok yang masih menjadi sesuatu yang gaib. Tak ada yang tahu apakah kita bisa menikmati  hari esok karena bisa jadi, hari ini kita berjumpa  dengan kematian.  Lupakan kita akan bagaimana menghadapi hari esok. Jadi, apakah hari ini menjadi hari terbaik bagi Anda?

Salah satu kesalahan manusia adalah membebani masa sekarang dengan beban masa depan yang panjang. Dikala  seseorang sedang berangan-angan, pikirannya melintas jauh ke dalam suatu garis yang tiada ujung. Hadapilah hidup hari ini. Ini lebih baik dan lebih bermanfaat serta lebih memberikan kemaslahatan bagi kehidupan kita.

Sesungguhnya, memberati pikiran dengan kesulitan yang belum tiba waktunya adalah suatu kebodohan yang nyata. Sesungguhnya, Allah Swt telah mencukupi kita di masa kemarin dan akan mencukupi kita kelak untuk apa yang akan terjadi.

Ada dua hari dalam hidup ini yang sama sekali tak perlu dikhawatirkan: 

Pertama, hari kemarin, Anda tak bisa mengubah apa pun yang telah terjadi. Anda tak bisa menarik perkataan yang telah terucapkan. Anda tak mungkin lagi menghapus kesalahan dan mengulangi kegembiraan yang Anda rasakan kemarin.  Biarkan hari kemarin berlalu, lepaskan saja.

Kedua, hari esok. Hingga mentari esok hari terbit, Anda tak tahu apa yang akan terjadi.  Anda tak bisa melakukan apa pun esok hari. Anda tak mungkin sedih atas ceria di esok hari. Esok hari belum tiba, biarkan saja. 

Hal yang tersisa, kini hanyalah hari ini. Pintu masa lalu telah tertutup, sedangkan pintu masa depan belum terbuka.  Pusatkan saja diri Anda utuk hari ini. Anda dapat mengerjakan lebih banyak hal hari ini bila Anda mampu memaafkan hari kemarin dan melepaskan ketakutan akan esok hari. Hiduplah hari ini. Sebab, masa lalu dan masa depan  hanyalah hari ini, hari ini yang abadi.

Hiduplah hari ini. Sebab, masa lalu sudah lewat dan masa depan belum tiba. Hiduplah hari ini seperti hari terakhirmu dan sebaik mungkin untuk dirimu dan sesama. Sebab, hari ini akan menjadi kemarin,  dan hari ini akan menentukan esok.

Perlakukan setiap orang dengan kebaikan hati dan rasa hormat, meski mereka berlaku buruk pada kita. Ingatlah bahwa kita menunjukkan penghargaan pada orang lain bukan karena siapa mereka, tetapi karena siapakah diri kita sendiri. Kita akan memetik setiap perbuatan yang telah kita lakukan, maka pastikan apa yang akan dipetik adalah kebaikan.

Hari kemarin. Biarkan hari kemarin lewat, lepaskan saja. Hari esok, belum tiba, biarkan saja. Hari ini pusatkan diri Anda untuk hari ini. Itu adalah tiga hari yang selalu mengiringi kehidupan kita  di dunia ini. Hari yang lalu telah berlalu dan harapan itu masih gaib. Kita punya waktu ketika kita harus ada, yaitu hari ini. Hari kemarin bukan untuk dilupakan, tetapi bukan juga untuk selalu diingat.

Ada dua hal yang selalu menemani saat hari kemarin, yaitu keberhasilan dan keterpurukan. Mengingat keberhasilan dalam hari kemarin bisa menjadi bahan bakar semangat agar lebih  baik lagi. Tetapi mengingat keterpurukan dapat membunuh semangat, mematikan tekad dan mengubur masa depan yang belum terjadi. Hari kemarin mungkin kita dikecewakan oleh seorang yang benar-benar  kita cintai dan pikirkan, kita selalu membawa ke arah kekecewaan itu hingga banyak hal yang harus kita lakukan hari ini malah tidak dilakukan.

Bila suatu saat Anda menganggur tanpa kegiatan, bersiaplah pikirkan hari kemarin akan datang. Misalnya mengingat kegelapan hari kemarin, menyesali kesialan hari ini, hingga mencemaskan kelamnya masa depan yang belum tentu terjadi. Kita boleh merencanakan kehidupan hari esok dan itu penting sebagai tujuan hidup kita.

Namun, hindarilah angan-angan berlebihan yang membuat kita hanya mengkhayal tanpa  melakukan sesuatu apa pun. Kita mengharapkan   misalnya di hari esok bertemu dengan seorang wanita cantik, tinggi, berambut panjang dan berkulit putih. Namun, setiap hari kita hanya berkhayal sambil tidur di atas ranjang tanpa  melakukan apa pun yang mengarah pada tujuan kita.   

Tentunya Anda sama seperti yang lain dalam hal sering menunda sesuatu yang bisa dikerjakan sekarang. Seringkali kita dihinggapi rasa malas ketika pekerjaan menanti di depan mata. Namun anehnya apabila kita tidak sedang bisa bekerja, karena misalnya kita tengah di luar rumah/kantor, kita selalu merasa ingin atau bahkan bersemangat untuk mengerjakan tugas tersebut.

Bahwa kita harus cepat-cepat pulang sehingga bisa segera bekerja, tapi begitu sampai di rumah...eh keinginan dan semangat tersebut tiba-tiba raib begitu saja. Ada saja hal lain yang mengalihkan perhatian kita atau harus dikerjakan sehingga kita punya alasan untuk menunda tugas kita. 

‘’Ah, nanti saja, habis nonton berita. Atau, ‘’Ah mending baca koran dulu.’’ Atau, ‘’Cek email dan surfing internet dulu ah.’’ Atau, ‘’Ah, mesti benarin kompor rusak nih. Begitu juga kalau harus ke pusat kebugaran, terkadang rasanya malas sekali. Semakin memaksa diri, semakin malas, dan di otak malah tersirat keinginan untuk makan humburger atau mi bakso atau fried chiken dulu.

Atau  skenario lainnya adalah Anda sudah keder duluan memikirkan beban pekerjaan ini. Semakin Anda pikirkan, semakin Anda terjangkit penyakit malas. Banyak orang yang  mengalami hal ini. Sekarang, kalau hal tersebut menjangkiti saya, saya akan berusaha untuk tidak memikirkan apa-apa, apalagi mengenai betapa banyaknya yang harus kita kerjakan.

Tip yang paling baik adalah apabila Anda mengerjakan tugas Anda secara spontan tanpa perencanaan atau ancang-ancang, ‘’Wah saya harus mengerjakan ini malam ini, harus begini begitu...aduh banyak sekali yang belum saya kerjakan. ‘’Kalau Anda  mulai berpikir begitu bisa dipastikan Anda langsung dilanda rasa letih-lesu berkepanjangan. Jadi kalau sedang malas ke pusat kebugaran, ya sudah pergi saja tanpa dipikir-pikir dan dibahas secara panjang lebar betapa rendahnya motivasi saya hari ini.  

Kita jangan terlalu terpaku dengan teori tentang motivasi seolah ia  suatu kebenaran mutlak. Itulah otak kita selalu senang berteori dan berkonspirasi. Seperti halnya bangsa kita ini senangnya seminar dan ngobrol panjang-lebar tentang kehidupan berbangsa dan bernegara  yang bersih, sehat dan benar. Tapi tidak pernah ada implementasinya. Janganlah jadi orang yang NATO (No Action Talk Only)  alias ngomong atau mikir melulu, tapi praktiknya nol besar. Biasanya motivasi Anda    akan kembali dengan sendirinya begitu Anda mulai mengerjakan dan asyik terlibat dalam tugas atau proyek Anda.

Tidak bisa dipungkiri bahwa disiplin itu perlu kalau kita mau maju. Misalnya seorang penulis berkata, ‘’Saya tahu teorinya bahwa saya harus paling tidak menulis beberapa jam sehari, mau tidak mau, suka tidak suka, ada atau tidak bahan untuk ditulis.’’ Kalau perlu harus ambil waktu yang paling nyaman. Misalnya jam tiga pagi pada saat orang sedang nikmatnya mendengkur di tempat tidur. 

‘’Tapi saya adalah saya, meski kalau sedang ada ide atau semangat menulis saya bisa menulis dengan sangat mumpuni, sebagian besar waktu saya tidak saya habiskan untuk menulis. Saya kadang perlu di ‘provokasi’ dulu untuk dapat bersemangat menulis.’’

‘’Jadi, sama seperti Anda semua saya ini bukan contoh yang baik dalam hal disiplin dan tidak menunda pekerjaaan. Maunya saya, saya menulis tiga buku setahun, tapi ya beginilah adanya, saya saat ini baru mampu memproduksi satu buku setahun. Tidak apa-apalah.’’ 

Mudah-mudahan sekelumit pencerahan ini akan ada manfaatnya baik untuk diri saya sendiri maupun untuk yang lain. Selamat bekerja! (A.Rasyid Muhammad, anggota Pokja PPWK DKI Jakarta, Ghoswriter).